Selasa, 22 Juli 2014

Notes of The Day

Pagi ini terkesan begitu tergesa-gesa membuka laptop hanya sebuah tulisan - yang belum terselesaikan. Udara di pagi hari yang tidak begitu terik sedikit "mengilhami" saya untuk segera menuntaskan hobby sampingan ini. Isi tulisan ini mugkin akan terdengar klise oleh mereka 'pendengar awam' tapi tidak dengan sebuah konten/konteks dari isi tulisan blog ini. Mungkin akan terdengar kaku tapi beginilah cara saya memperlakukan isi pikiran saya sebagai seorang "writer addict". Kali ini saya akan berbicara mengenai siapapun yang mengaku pengagum social media. Why do I should write about this? That's a very simple question! Of course its an important thing of us! --
Karena tidak semua hal di social media manapun itu harus kita gubris apalagi ditanggapi balik (re: dikomentarin) yah as a simple one we just have to pretend not to hear what he/she says. Yes! Kadang beberapa diantaranya hanya perlu kita tanggapi jika dalam penyampaiannya terdapat data yang tidak akurat / tidak berdasar pada fakta yang ada. Bahkan terkadang ada beberapa hal yang hanya perlu kita diami. Ini bukan bagian dari sikap apatis tapi lebih kepada membatasi diri agar tidak 'berargument' lebih pajang. Diampun bukan berarti membenarkan hanya saja kita sedikit lebih dewasa dalam hal membatasi diri untuk bertingkah tidak mengedepankan sikap arogant sekaligus sifat 'Egoisme' dalam diri kita. Cus as we know that "Each person has a sense of selfishness in themselves" dengan kata lain "Setiap orang masing-masing memiliki rasa ego dalam dirinya" . 
So lets be kind each other! -- Alijawati. A - Writer Addict.



Jumat, 23 November 2012

Galau On The Reality

Jaman sekarang, di kalangan remaja hal yang sehubungan dengan kata galau tidak lagi menjadi momok yang harus ditakuti atau bahkan harus dihindari oleh sekelompok atau bahkan segelintir orang karena kata galau di jaman "Gehol" ini demikian para ABG menyebutnya dapat diidentikkan dengan perasaan yang serasa harus dan bahkan wajib dimiliki oleh mereka insan muda-mudi. Ia bahkan serasa haus akan perasaan tersebut jika belum merasakannya. Tidak hanya sampai disitu, mereka pun mengelompokkan diri mereka kedalam tiga kalangan yakni dari kalangan bawah, kalangan tengah sampai kalangan atas. Dari ketiga kalangan tersebut dapat diidentifikasikan bahwa tiap generasi itu memiliki masanya masing-masing karena terbukti sampai saat ini per-generasian setiap manusia sangat mendominasi tiap kalangan. Misal dari kalangan bawah mereka terdiri dari anak-anak yang sepantaran 5-12 tahun. Sedangkan dari kalangan tengah mereka itu terdiri dari anak Alay, ABG dan selettingan remaja yang baru tumbuh kembang hingga tingkat kematangannya pun masih belum matang sehingga tak jarang mereka seringkali dikategorikan sebagai makhluk dari kalangan tengah yang masih labil akan emosi demi penentuan jati dirinya sebagai insan manusia seutuhnya. Kalangan ini berada diantara usia 13-16 tahun. And the last. Nah ini nih! Segerombolan makhluk dari kalangan atas, mereka ini sebenarnya adalah sekumpulan orang yang paling sulit diidentifikasi, namun pertanyaan yang terbesit dibenak sang penulis saat ini adalah mengapa sampai sesulit itu mengidentifikasi keberadaan mereka? Jawabannya hanya satu ialah mereka terlalu dini untuk diklasifikasikan kedalam kelompok yang tergolong dari kalangan atas ini. Hanya saja mereka sudah cukup usia akan pribadinya jadi tidak salah juga kalau mereka cukup bisa dikatakan dewasa dengan pengklasifikasian ini. Jadi intinya, galau itu bukan penyakit hati mamen tapi lebih tepatnya disebut perasaan semacam penghangat jiwa. :))